Strees & Manajemen Stress - Perilaku Organisasi
Strees & Manajemen Stress
Stress adalah sutu rangsangan yang menegangkan psikologis dari suatu organisme, tekanan-tekanan fisik dan psikologis yang menekan organ tubuh dan atau diri sendiri. Stress yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseoran untuk menghadapi lingkungannya. Adapun menurut Robbins (2001:563) stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis sasaorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Manajemen stress adalah kemampuan penggunaan sumber daya Manusia secara efektif untuk mengatasi gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang muncul karena tanggapan (respon).
Faktor-Faktor Pemicu Stress
Memahami faktor-faktor pemicu stress sangat penting untuk mengelolanya dengan lebih efektif. Berikut ini adalah beberapa kategori utama pemicu stress:
Faktor Biologis
- Genetika: Penelitian menunjukkan bahwa beberapa orang memiliki kecenderungan genetik untuk lebih mudah mengalami stress dibandingkan dengan yang lain.
- Pengalaman Hidup: Pengalaman traumatis atau masa kecil yang sulit dapat meningkatkan kerentanan terhadap stress di kemudian hari.
- Tidur (Sleep): Kurang tidur dapat mengganggu keseimbangan hormon dan memperburuk efek stress.
- Diet: Kurangnya nutrisi penting dan konsumsi makanan olahan yang tinggi dapat meningkatkan tingkat stress.
Faktor Psikologis
- Persepsi: Cara kita memandang dan menginterpretasi peristiwa dalam hidup dapat significantly mempengaruhi tingkat stress.
- Perasaan & Emosi: Emosi negatif seperti kecemasan, kemarahan, dan kesedihan dapat memicu stress.
- Kepribadian: Orang dengan kepribadian perfeksionis atau mudah cemas cenderung lebih rentan terhadap stress.
Strategi Manajemen Stress
- Partisipan mempelajari apakah stress itu dan bagaimana mengidentifikasi stressor dalam kehidupan mereka sendiri
- Mereka memperoleh dan mempraktekan ketrampilan untuk mengatasi stress
- Partisipan mempraktekan tehnik manajemen stress yang ditargetkan situasi penuh stress dan memonitor efektivitas tehnik itu
Menurut Priyoto (2014), berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengelola stress:
Berkonsentrasi
- Fokus pada saat ini: Hindari memikirkan masa lalu atau masa depan yang penuh kekhawatiran.
- Lakukan mindfulness: Latihan ini membantu Anda untuk fokus pada sensasi dan pikiran saat ini tanpa menghakimi.
- Temukan hobi yang Anda sukai: Melakukan aktivitas yang menyenangkan dapat membantu mengalihkan pikiran dari stres.
Meningkatkan Keterampilan Belajar
- Manajemen waktu: Buatlah jadwal dan rencanakan kegiatan Anda dengan baik untuk menghindari penumpukan tugas.
- Teknik belajar yang efektif: Temukan cara belajar yang paling sesuai dengan Anda untuk meningkatkan pemahaman dan mengurangi stres saat belajar.
- Belajar mengatakan "tidak": Jangan ragu untuk menolak tugas atau tanggung jawab tambahan jika Anda sudah merasa kewalahan.
Istirahat Yang Cukup
- Tidur yang cukup: Pastikan Anda mendapatkan 7-8 jam tidur berkualitas setiap malam.
- Istirahat sejenak: Luangkan waktu untuk beristirahat sejenak dari aktivitas Anda, terutama saat Anda merasa stres.
- Liburan: Ambil waktu untuk berlibur dan menjauh dari rutinitas sehari-hari untuk menyegarkan pikiran dan tubuh.
- Penting untuk diingat bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mengelola stress.
Indikasi atau Gejala Stress
Stress merupakan respons alami tubuh terhadap berbagai tuntutan dan tekanan dalam hidup. Meskipun dalam kadar tertentu stress dapat memotivasi kita, stress yang berlebihan dapat berakibat negatif pada kesehatan fisik dan mental. Oleh karena itu, penting untuk memahami indikasi atau gejala stress agar kita dapat mengelolanya dengan lebih efektif. Menurut Baram, gejala-gejala stress dapat berupa tanda-tanda sebagai berikut:
Gejala Fisik:
- Jantung berdebar kencang
- Nafas cepat
- Berkeringat
- Otot tegang
- Sakit kepala
- Pusing
- Kelelahan
- Gangguan pencernaan
- Penurunan nafsu makan
- Insomnia
Gejala Emosional:
- Mudah marah
- Cemas
- Gelisah
- Depresi
- Sulit berkonsentrasi
- Penurunan motivasi
- Menarik diri dari interaksi sosial
- Perubahan suasana hati yang cepat
Dampak Stress Terhadap Individu
Meskipun dalam kadar tertentu stress dapat memotivasi kita, stress yang berlebihan dapat berakibat negatif pada kesehatan fisik, mental, dan perilaku individu.
Berikut adalah beberapa dampak stress yang perlu dipahami:
Dampak Fisiologis
- Sistem Kekebalan Tubuh: Stress dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga Anda lebih mudah terserang penyakit.
- Sistem Kardiovaskular: Stress dapat meningkatkan tekanan darah, detak jantung, dan risiko penyakit jantung.
- Sistem Pencernaan: Stress dapat menyebabkan berbagai masalah pencernaan, seperti sakit maag, diare, dan sembelit.
- Sistem Hormon: Stress dapat mengganggu keseimbangan hormon, yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti kelelahan, insomnia, dan depresi.
- Nyeri dan Ketegangan Otot: Stress dapat menyebabkan ketegangan otot, sakit kepala, dan nyeri kronis lainnya.
Dampak Psikologis
- Kecemasan dan Depresi: Stress dapat meningkatkan risiko kecemasan dan depresi.
- Kesulitan Berkonsentrasi: Stress dapat membuat Anda sulit fokus pada tugas dan pekerjaan.
- Irritabilitas dan Kemarahan: Stress dapat membuat Anda mudah marah dan tersinggung.
- Kesulitan Tidur: Stress dapat menyebabkan insomnia dan gangguan tidur lainnya.
- Penyalahgunaan Zat: Stress dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan zat, seperti alkohol dan obat-obatan terlarang.
Dampak Perilaku
- Penarikan Diri dari Aktivitas Sosial: Stress dapat membuat Anda menarik diri dari interaksi sosial dan mengisolasi diri.
- Perubahan Pola Makan: Stress dapat menyebabkan perubahan pola makan, seperti makan berlebihan atau makan terlalu sedikit.
- Penyalahgunaan Zat: Stress dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan zat, seperti alkohol dan obat-obatan terlarang.
- Perilaku Agresif: Stress dapat menyebabkan perilaku agresif dan kekerasan.
- Penurunan Kinerja Kerja: Stress dapat menurunkan kinerja kerja dan produktivitas.
- Penting untuk diingat bahwa setiap orang mengalami stress dengan cara yang berbeda.
Solusi Dalam Upaya Menghindari & Mengatasi Stress
Di Rumah
- Luangkan waktu untuk bersantai: Lakukan aktivitas yang Anda sukai, seperti membaca buku, mendengarkan musik, atau mandi air hangat.
- Pelajari teknik manajemen waktu: Atur jadwal Anda dengan baik untuk menghindari penumpukan tugas dan rasa kewalahan.
- Olahraga teratur: Aktivitas fisik dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan mood.
- Tidur yang cukup: Pastikan Anda mendapatkan 7-8 jam tidur berkualitas setiap malam.
- Senyumlah sesering mungkin: Senyum dapat membantu menenangkan pikiran dan meningkatkan mood.
- Tata rumah Anda: Ciptakan ruang yang rapi dan nyaman untuk membantu Anda merasa lebih tenang.
Di Kantor
- Luangkan waktu untuk istirahat: Berdirilah dan bergeraklah sejenak setiap 30-60 menit.
- Hindari politik kantor dan gosip: Fokuslah pada pekerjaan Anda dan jaga hubungan baik dengan rekan kerja.
- Bergabung dengan organisasi atau klub di kantor: Ini dapat membantu Anda membangun koneksi sosial dan mengurangi stres.
- Kembangkan sikap positif: Percayalah pada kemampuan Anda dan fokuslah pada pencapaian Anda.
Beberapa cara mengatasi stress adalah sebagai berikut:
Psikoterapi
- Membicarakan masalah dengan psikolog atau terapis dapat membantu mengidentifikasi sumber stres dan mengembangkan strategi untuk mengatasinya.
- Ada berbagai jenis psikoterapi yang tersedia, seperti terapi perilaku kognitif, terapi interpersonal, dan mindfulness.
Tertawa
- Tertawa dapat memicu pelepasan hormon endorfin yang memiliki efek menenangkan dan meningkatkan mood.
- Menonton film komedi, membaca cerita lucu, atau menghabiskan waktu bersama orang-orang yang membuat kamu tertawa dapat membantu meredakan stres.
Berpikir Positif
- Menjaga pola pikir positif dapat membantu kamu melihat situasi stres dari sudut pandang yang lebih konstruktif dan menemukan solusi yang lebih kreatif.
- Latihan mindfulness dan meditasi dapat membantu kamu fokus pada saat ini dan melepaskan pikiran negatif.
Tidur
- Kurang tidur dapat memperburuk stres.
- Pastikan kamu tidur 7-8 jam setiap malam untuk membantu tubuh dan pikiran kamu pulih dari stres.
Olahraga
- Olahraga teratur dapat membantu mengurangi stres dengan meningkatkan pelepasan endorfin dan meningkatkan mood.
- Pilihlah aktivitas fisik yang kamu sukai dan lakukan minimal 30 menit setiap hari.
.
.
.
.
Sumber :
Alawiyah, S. (2020). Manajemen stres dan motivasi belajar siswa pada era disrupsi. Al-Idarah:
Jurnal Kependidikan Islam, 10 (2), 211-221.
Anugraheni, A. R., Separina, C. A., Paramitasari, S. P., Vionita, V. K., & Husna, A. N. (2019,
October). Skala motivasi belajar: konstruksi dan analisis psikometri. In prosiding
University research colloquium (pp. 66-69).
Aprillia, A. D. (2019). Hubungan antara kontrol diri dengan kecanduan media sosial
(instagram) pada remaja di SMA Harapan 1 Medan (Doctoral dissertation, Universitas
Medan Area).
Azwar, S. (2012). penyusunan skala psikologi edisi 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Barseli, M., & Ifdil, I. (2017). konsep stres akademik siswa. Jurnal konseling dan pendidikan,
5, 143-148.
Barseli, M., Ifdil, I., & Fitria, L. (2020). Stress akademik akibat Covid-19. JPGI (Jurnal
Penelitian Guru Indonesia), 5(2), 95-99.
Bedewy, D., & Gabriel, A. (2015). Examining perceptions of academic stress and its sources
among university students: The Perception of academic stress scale. Health Psychology
Open, 2(2), 2055102915596714.
B. Uno, Hamzah. 2013. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara.
Cahyani, A., Listiana, I. D., & Larasati, S. P. D. (2020). Motivasi belajar siswa SMA pada
pembelajaran daring di masa pandemi covid-19. IQ (Ilmu Al-qur'an): Jurnal
Pendidikan Islam, 3(01), 123-140.
Dimyati & Mudjiono. (2011). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Emda, A. (2017). Kedudukan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran. Lantanida Journal,
5 (2), 93–196.
Gadzella, B. M., & Masten, W. G. (2005). An analysis of the categories in the student-life
stress inventory. American Journal of Psychological Research, 3 (1), 15.
Gurning, A. E. (2017). Hubungan tingkat stres terhadap tingkat motivasi belajar remaja kelas
XII dalam persiapan ujian nasional di SMA St. Maria Monica, Bekasi Timur (Doctoral
dissertation, Universitas Binawan).
Guyana, C. (2014). Pengaruh manajemen stres terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran
akuntansi SMK Negeri 1 Pontianak. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa
(JPPK), 5 (5).
Indria, I., Siregar, J., & Herawaty, Y.(2019). Hubungan antara kesabaran dan stres akademik
pada mahasiswa di pekanbaru. AN-NAFS, 13 (01), 21– 34
Komentar
Posting Komentar